Jumat, 21 Februari 2014

I Will Protect You (Infinite's Fanfiction)

Ini fanfiction pertama buatanku. Mohon di comment ya.. Yoroshiku onegaishimasu...

Title     : I Will Protect You
Author : Nam Aehyun
Genre  : hurt
Cast    : (Namamu) as you
Nam Woohyun
Kim Sunggyu
Lee Hoya
Lee Sungyeol
Lee Sungjong
Jang Dongwoo
Kim Myungsoo
Namja 1
Namja 2

Part 1
Save Me

Semilir angin yang begitu dingin terus berlari menghantam badanmu. Hingga kakimu tak kuasa melangkah lebih jauh lagi, ditambah lagi luka-luka yang ada di sekitar lutut dan betismu, membuat jalanmu semakin goyah saja. Tangan kananmu terus-terusan menekan lengan tangan kirimu yang terasa begitu perih. Kau pun melihat ke belakang tetesan-tetesan merah dari lenganmu memang mulai membekas di jalanan sepi yang telah kau lewati. Kemudian samar-samar kaudengar suara 2 namja beserta langkah kakinya yang terdengar begitu mencekam di telingamu. Kau segera berlari sebisamu memasuki sebuah jalan kecil yang kaulihat di sisi kanan jalan. Dengan nafas yang terengah-engah kau menelusuri jalan kecil itu. Kau melihat kanan kiri jalan, orang-orang sudah banyak yang memadamkan lampu rumahnya. Kau terus berjalan hingga sebuah tembok besar masuk dalam pandanganmu. Yah, jalan buntu. Peluhmu pun semakin keluar dengan derasnya.
“Hei, hyung, lihat merah-merah ini, anak itu pasti lewat jalan ini”.
Tiba-tiba suara namja itu terdengar semakin jelas di tengah malam begini. Sontak rasa ketakutan semakin menguasaimu. Kau sudah tak bisa berpikir lagi. Harus kemana lagi agar kau bisa menghindar dari mereka. Kau lalu melihat gerbang yang sepertinya tidak terkunci, kau segera berjalan mendekati untuk membukanya dan masuk dengan tergesa-gesa. Tetapi,
Bruuukkk..
Kau terjatuh. Parahnya kaki kananmu terkilir. Kau hanya bisa meringis kesakitan. Kau mencoba bangkit dan terus berjalan mendekati pintu rumah dengan kaki yang terseret-seret. Kauketuk pintu rumah itu berharap sang pemilik rumah mengijinkanmu untuk hanya sekedar bersembunyi sebentar. Namun sayang, hening, tak ada suara sedikitpun. Kau ambruk dan duduk bersandar pintu. Kaulihat langit semakin gelap, matamu sudah tak bisa menangkap cahaya bintang-bintang yang sebenarnya ada. Pandanganmu semakin lama semakin kabur saja. Hingga tiba-tiba suara langkah kaki terdengar semakin jelas. Dan suara gerbang terbuka pun mulai terdengar, diikuti suara 2 namja. Tidak, ternyata ada lebih dari 2 namja. Mungkin mereka memanggil bala bantuan lebih banyak lagi, pikirmu. Dalam pandanganmu yang sudah terbatas itu kaulihat mereka mulai mendekatimu. Kau mencoba menggerakkan kakimu, tetapi hasilnya nihil. Kau sudah seperti boneka saja yang hanya terdiam kaku.
“Tuhan, beginikah akhir dari kehidupanku?” jeritmu dalam hati.

Perlahan silaunya cahaya mulai kau rasakan, kau pun membuka matamu dan melihat sekelilingmu. Ada tujuh namja mengelilingimu, dengan muka cemas mereka memperhatikanmu yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit.
“Gwaenchana?” Tanya salah seorang namja.
Kau hanya bisa memperhatikan mereka dengan pandangan bingung. Kau pun bangkit mencoba untuk duduk. Kemudian salah seorang namja yang berada dekat disampingmu membantumu untuk duduk dan meletakkan bantal dibelakangmu sebagai sandaran.
“Ka, kamsahamnida” katamu lirih.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya namja yang membantumu tadi.
“Ke, kenapa aku ada disini?” Tanyamu.
“Semalam kami menemukanmu pingsan di depan rumah kami, jadi kami membawamu kesini”
“Kau sepertinya terluka parah”
“Te,, terima kasih banyak dan maaf aku sudah merepotkan” Ucapmu.
“Ah, aniya”
“Nah, sekarang coba beritahu kami. Namamu siapa? Tinggal dimana? Kenapa kamu bisa terluka begini?” Tanya namja yang sepertinya paling tinggi diantara mereka.
Kau pun menundukan kepalamu.
“Namaku (namamu), a, a, aku...” jawabmu terbata-bata sambil memandangi perban yang membalut luka di kakimu dan tanganmu mengempal dan gemetaran.
“Sudahlah, ceritanya nanti saja. Perkenalkan namaku Nam Woohyun” ucap salah seorang namja yang tadi membantumu, dia memotong pembicaraan karena sepertinya dia tahu bahwa kau masih belum siap menceritakan kisahmu.
“Lee Howon imnida, panggil saja Hoya”
“Jang Dongwoo imnida”
“Kim Myungsoo imnida”
Mereka pun mulai memperkenalkan diri.
“Yang paling tinggi, Lee Sungyeol imnida hehe”
“Lee Sungjong imnida, aku yang paling muda”
“Kim Sunggyu imnida”
“Yang paling tua en sipit” lanjut Dongwoo
“Yak, Dongwoo ah!”
Kau pun tersenyum tipis melihat mereka.
“Kau kelahiran tahun berapa?” tanya Woohyun dengan kepala sedikit membungkuk agar lebih jelas melihatmu
“94” jawabmu singkat.
“Aah.. berarti kau harus memanggil kami oppa, arraseo..”
Beberapa hari kemudian, kau sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit itu. Kalian pun berjalan melewati koridor dengan lumayan pelan karena kakimu belum sepenuhnya pulih.
“Ye.. Akhirnya sekarang kamu boleh pulang” Sungyeol mulai menunjukan gusinya.
“Kemana kami harus mengantarmu pulang?” tanya Sunggyu.
Kau hanya terdiam
“(namamu), (namamu),,,” panggilnya sambil memegang bahumu.
“Se, sebentar aku ingin ke toilet dulu”
“Kau tahu toilet dimana? Mau kesana bareng?” tanya Sungjong
“Heeiiii,,,,” ujar mereka
“Bukan begitu, kasihan dia kakinya belum sembuh benar” protes Sungjong
“Tidak apa-apa kok, aku bisa sendiri” katamu.
 "Ya, kalau begitu kami menunggu disini ya" Woohyun tersenyum menatapmu.

Di toilet, sambil membersihkan tangan
You pov
Haruskah aku kembali ke rumahku? Ah, tidak mungkin. Aku hanya akan mencari mati saja jika kesana. Mereka pasti dengan mudah menemukanku. Lalu kemana aku harus pergi?

Setelah mengeringkan tangan, kau memutuskan keluar dari tempat itu. Baru satu langkah dari pintu utama toilet, kau sontak kaget mendengar suara yang tak asing dari toilet pria.
“Hyung, kau yakin (namamu) ada disini?”
“Tentu saja, semua orang yang terluka pasti larinya ke rumah sakit”
“Lalu, berarti kita harus berkeliling gitu, door to door, aaah,, cape hyung”
“Bodoh, kita tinggal tanya saja sama petugas di depan, kamarnya dimana. Bilang saja mau menjenguk”
“Aaa.. Hyung memang pintar. Setelah ketemu, baru kita habisi sampai tak ada tersisa, hahaha”
“Termasuk nyawanya”

Mendengar rencana mereka, kau pun cemas. Keringat semakin membasahi wajahmu. Kenapa aku harus bertemu dengan mereka lagi, pikirmu. Kau pun bersandar di dinding dan pletaaakkk,,
“Hoh, siapa disitu?”
Kau menjatuhkan alat pel yang bersandar di dinding, kau pun segera memasuki kembali toilet itu, dan bersembunyi di salah satu ruang toilet.

“Jangan-jangan ada yang mendengar kita, hyung”
“Haaah, menyusahkan saja. Ayo periksa”
“Eh, tunggu hyung. Kau mau masuk toilet wanita”
“Sssttt, sudah diam saja, lihat disini sepi”
Mereka mulai masuk dan kamu bisa mendengar kembali suara langkah mereka yang sangat kaubenci.
“Huh, kelihatannya saja sepi, tapi aku yakin pasti sebenarnya ada satu orang yang bersembunyi disini”
Brakkk.
Kau mengangkat bahumu kaget.
Brakkk. Brakkk. Brakkk.
Sepertinya itu suara pintu toilet terbuka secara paksa satu per satu oleh mereka. Jantungmu terasa berdetak lebih cepat. Tetesan bening mulai muncul di sudut matamu. Kedua tanganmu hanya bisa menutup mulutmu, berusaha menahan suara tangis cemasmu. Kalau begini terus pasti tiba juga saatnya mereka menemukan tempat persembunyianmu.


To be continued.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar