Ini fanfiction pertama buatanku. Mohon di comment ya..
Yoroshiku onegaishimasu...
Title : I Will Protect
You
Author : Nam Aehyun
Genre : hurt
Cast : (Namamu) as you
Nam
Woohyun
Kim
Sunggyu
Lee
Hoya
Lee
Sungyeol
Lee
Sungjong
Jang
Dongwoo
Kim
Myungsoo
Namja
1
Namja
2
Part 1
Save Me
Semilir angin yang begitu dingin terus berlari
menghantam badanmu. Hingga kakimu tak kuasa melangkah lebih jauh lagi, ditambah
lagi luka-luka yang ada di sekitar lutut dan betismu, membuat jalanmu semakin
goyah saja. Tangan kananmu terus-terusan menekan lengan tangan kirimu yang
terasa begitu perih. Kau pun melihat ke belakang tetesan-tetesan merah dari
lenganmu memang mulai membekas di jalanan sepi yang telah kau lewati. Kemudian
samar-samar kaudengar suara 2 namja beserta langkah kakinya yang terdengar
begitu mencekam di telingamu. Kau segera berlari sebisamu memasuki sebuah jalan
kecil yang kaulihat di sisi kanan jalan. Dengan nafas yang terengah-engah kau
menelusuri jalan kecil itu. Kau melihat kanan kiri jalan, orang-orang sudah
banyak yang memadamkan lampu rumahnya. Kau terus berjalan hingga sebuah tembok
besar masuk dalam pandanganmu. Yah, jalan buntu. Peluhmu pun semakin keluar
dengan derasnya.
“Hei, hyung, lihat merah-merah ini, anak itu pasti
lewat jalan ini”.
Tiba-tiba suara namja itu terdengar semakin jelas di
tengah malam begini. Sontak rasa ketakutan semakin menguasaimu. Kau sudah tak
bisa berpikir lagi. Harus kemana lagi agar kau bisa menghindar dari mereka. Kau
lalu melihat gerbang yang sepertinya tidak terkunci, kau segera berjalan
mendekati untuk membukanya dan masuk dengan tergesa-gesa. Tetapi,
Bruuukkk..
Kau terjatuh. Parahnya kaki kananmu terkilir. Kau
hanya bisa meringis kesakitan. Kau mencoba bangkit dan terus berjalan mendekati
pintu rumah dengan kaki yang terseret-seret. Kauketuk pintu rumah itu berharap
sang pemilik rumah mengijinkanmu untuk hanya sekedar bersembunyi sebentar.
Namun sayang, hening, tak ada suara sedikitpun. Kau ambruk dan duduk bersandar
pintu. Kaulihat langit semakin gelap, matamu sudah tak bisa menangkap cahaya
bintang-bintang yang sebenarnya ada. Pandanganmu semakin lama semakin kabur
saja. Hingga tiba-tiba suara langkah kaki terdengar semakin jelas. Dan suara
gerbang terbuka pun mulai terdengar, diikuti suara 2 namja. Tidak, ternyata ada
lebih dari 2 namja. Mungkin mereka memanggil bala bantuan lebih banyak lagi,
pikirmu. Dalam pandanganmu yang sudah terbatas itu kaulihat mereka mulai
mendekatimu. Kau mencoba menggerakkan kakimu, tetapi hasilnya nihil. Kau sudah
seperti boneka saja yang hanya terdiam kaku.
“Tuhan, beginikah akhir dari kehidupanku?” jeritmu
dalam hati.
Perlahan silaunya cahaya mulai kau rasakan, kau pun
membuka matamu dan melihat sekelilingmu. Ada tujuh namja mengelilingimu, dengan
muka cemas mereka memperhatikanmu yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit.
“Gwaenchana?” Tanya salah seorang namja.
Kau hanya bisa memperhatikan mereka dengan pandangan
bingung. Kau pun bangkit mencoba untuk duduk. Kemudian salah seorang namja yang
berada dekat disampingmu membantumu untuk duduk dan meletakkan bantal
dibelakangmu sebagai sandaran.
“Ka, kamsahamnida” katamu lirih.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya namja yang membantumu
tadi.
“Ke, kenapa aku ada disini?” Tanyamu.
“Semalam kami menemukanmu pingsan di depan rumah kami,
jadi kami membawamu kesini”
“Kau sepertinya terluka parah”
“Te,, terima kasih banyak dan maaf aku sudah merepotkan”
Ucapmu.
“Ah, aniya”
“Nah, sekarang coba beritahu kami. Namamu siapa?
Tinggal dimana? Kenapa kamu bisa terluka begini?” Tanya namja yang sepertinya
paling tinggi diantara mereka.
Kau pun menundukan kepalamu.
“Namaku (namamu), a, a, aku...” jawabmu terbata-bata
sambil memandangi perban yang membalut luka di kakimu dan tanganmu mengempal
dan gemetaran.
“Sudahlah, ceritanya nanti saja. Perkenalkan namaku Nam
Woohyun” ucap salah seorang namja yang tadi membantumu, dia memotong
pembicaraan karena sepertinya dia tahu bahwa kau masih belum siap menceritakan
kisahmu.
“Lee Howon imnida, panggil saja Hoya”
“Jang Dongwoo imnida”
“Kim Myungsoo imnida”
Mereka pun mulai memperkenalkan diri.
“Yang paling tinggi, Lee Sungyeol imnida hehe”
“Lee Sungjong imnida, aku yang paling muda”
“Kim Sunggyu imnida”
“Yang paling tua en sipit” lanjut Dongwoo
“Yak, Dongwoo ah!”
Kau pun tersenyum tipis melihat mereka.
“Kau kelahiran tahun berapa?” tanya Woohyun dengan
kepala sedikit membungkuk agar lebih jelas melihatmu
“94” jawabmu singkat.
“Aah.. berarti kau harus memanggil kami oppa,
arraseo..”
Beberapa hari kemudian, kau sudah diperbolehkan
meninggalkan rumah sakit itu. Kalian pun berjalan melewati koridor dengan
lumayan pelan karena kakimu belum sepenuhnya pulih.
“Ye.. Akhirnya sekarang kamu boleh pulang” Sungyeol
mulai menunjukan gusinya.
“Kemana kami harus mengantarmu pulang?” tanya Sunggyu.
Kau hanya terdiam
“(namamu), (namamu),,,” panggilnya sambil memegang
bahumu.
“Se, sebentar aku ingin ke toilet dulu”
“Kau tahu toilet dimana? Mau kesana bareng?” tanya
Sungjong
“Heeiiii,,,,” ujar mereka
“Bukan begitu, kasihan dia kakinya belum sembuh benar”
protes Sungjong
“Tidak apa-apa kok, aku bisa sendiri” katamu.
"Ya, kalau begitu kami menunggu disini
ya" Woohyun tersenyum menatapmu.
Di toilet, sambil membersihkan tangan
You pov
Haruskah aku kembali ke rumahku? Ah, tidak
mungkin. Aku hanya akan mencari mati saja jika kesana. Mereka pasti dengan
mudah menemukanku. Lalu kemana aku harus pergi?
Setelah mengeringkan tangan, kau memutuskan keluar
dari tempat itu. Baru satu langkah dari pintu utama toilet, kau sontak kaget
mendengar suara yang tak asing dari toilet pria.
“Hyung, kau yakin (namamu) ada disini?”
“Tentu saja, semua orang yang terluka pasti larinya ke
rumah sakit”
“Lalu, berarti kita harus berkeliling gitu, door
to door, aaah,, cape hyung”
“Bodoh, kita tinggal tanya saja sama petugas di depan,
kamarnya dimana. Bilang saja mau menjenguk”
“Aaa.. Hyung memang pintar. Setelah ketemu, baru kita
habisi sampai tak ada tersisa, hahaha”
“Termasuk nyawanya”
Mendengar rencana mereka, kau pun cemas. Keringat
semakin membasahi wajahmu. Kenapa aku harus bertemu dengan mereka lagi,
pikirmu. Kau pun bersandar di dinding dan pletaaakkk,,
“Hoh, siapa disitu?”
Kau menjatuhkan alat pel yang bersandar di dinding,
kau pun segera memasuki kembali toilet itu, dan bersembunyi di salah satu ruang
toilet.
“Jangan-jangan ada yang mendengar kita, hyung”
“Haaah, menyusahkan saja. Ayo periksa”
“Eh, tunggu hyung. Kau mau masuk toilet wanita”
“Sssttt, sudah diam saja, lihat disini sepi”
Mereka mulai masuk dan kamu bisa mendengar kembali
suara langkah mereka yang sangat kaubenci.
“Huh, kelihatannya saja sepi, tapi aku yakin pasti
sebenarnya ada satu orang yang bersembunyi disini”
Brakkk.
Kau mengangkat bahumu kaget.
Brakkk. Brakkk. Brakkk.
Sepertinya itu suara pintu toilet terbuka secara paksa
satu per satu oleh mereka. Jantungmu terasa berdetak lebih cepat. Tetesan
bening mulai muncul di sudut matamu. Kedua tanganmu hanya bisa menutup mulutmu,
berusaha menahan suara tangis cemasmu. Kalau begini terus pasti tiba juga
saatnya mereka menemukan tempat persembunyianmu.
To be continued.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar